Selasa, 16 Juni 2009

ECOTOURISM'S CONCEPTUAL



Ecotourism (Ekowisata) adalah sebuah bentuk pariwisata yang menarik bagi orang-orang yang sangat memperhatikan ekologi dan sosial. David Bruce Weaver mendifinisikan ekowisata sebagai berikut:

“Ecotourism is a form of nature based tourism that strives to be ecologically, socio-culturally,and economically sustainable while providing opportunities for appreciating and learning about natural environment or specific elements thereof”

Dari definisi tersebut secara garis besar ekowisata merupakan kegiatan wisata yang menitikberatkan pada keberlangsungan sistem ekologi, sosial budaya dan juga ekonomi. Melalui ekowisata kegiatan wisatawan lebih ditekankan pada pengalaman dari mempelajari tentang alam beserta segala isinya, sehingga nantinya diharapkan bisa lebih menghargai alam beserta seluruh element yang termasuk didalamnya.
Ecotourism adalah tentang bagaimana mengalami dan mepelajari alam, dan dibutuhkan kepedulian, kontribusi dan usaha pelestraian pada suatu area. Ecotourism berdekatan dengan wisata budaya dan wisata petualangan. Semuanya bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh pariwisata konvensional, juga menjaga serta melestarikan integritas budaya lokal.

Melalui jenis kegiatannya, ecotourism dapat dibagi ke dalam dua spectrum yaitu “hard” dan “soft.”
Mereka yang menyukai ecotourism (hard spectrum) biasanya memiliki karakter:
1. Memiliki komitmen kuat terhadap ling kungan
2. Berkesinambungan
3. Perjalanan/kunjungan ke tempat dengan tujuan mengkhusus
4. Durasi kunjungan yang lama
5. Dalam kelompok kecil
6. Berperan serta aktif
7. Tidak mengharapkan pelayanan lebih dalam kunjungannya
8. Menekankan pada pengalaman/kepuasan tersendiri

Sedangkan yang masuk dalam soft spectrum memiliki karakter cenderung menjadikan pengalaman hanya sebagai salah satu komponen multi-tujuan perjalanan. Pelancong ini mengharapkan tingkat kenyamanan dan layanan yang lebih tinggi, dan lebih mungkin untuk mengandalkan pada interpretasi dan mediasi untuk menghargai alam atraksi yang relevan, pasif, tidak terlibat secara aktif.
Pada 1990, The International Ecotourism Society (TIES) mendefinisikan ecotourism sebagai ”Perjalanan ke area alam yang bertujuan menikmati, melindungi dan melestarikan lingkungan, juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.”

Mereka juga mengemukakan prinsip-prinsip dasar ecotourism sebagai berikut:
1. Meminimalisir dampak-dampak negatif pariwisata
2. Membangun kesadaran dan rasa hormat pada lingkungan dan kebudayaan
3. Memberi pengalaman dan kesan positif baik itu bagi para wisatawan dan masyarakat local setempat
4. Menambah keuntungan financial bagi masyarakat lokal akibat dari kunjungan para wisatawan ke daerah mereka
5. Meningkatkan citra ataupun kesan positif di mata internasional terhadap suatu daerah atau obyek wisata, baik dari aspek politik, lingkungan hidup, juga sosial.

Idealnya, ecotourism harus dapat memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:
1. Perlindungan terhadap keanekaragaman biologi dan kebudayaan melalui perlindungan ekosistem
2. Menyediakan lapangan kerja bagi penduduk lokal
3.Berbagi keuntungan dan manfaat-manfaat positif, baik dari segi sosial maupun ekonomi dengan Komunitas lokal dengan melibatkan mereka dalam manajemen perusahaan-perusahaan mereka yang berbasis ecotourism
4. Menjaga sumber-sumber daya alam, dengan fokus utama meminimalisir dampak-dampak negatif pada lingkungan
5. Menjadikan budaya lokal, flora, ataupun fauna sebagai daya tarik utama bagi para wisatawan
6. Terjangkau dari segi biaya

Pendapat lain mengemukakan tiga elemen inti dari ecotourism. Pertama, Fokus dan atraksi utamanya adalah lingkungan alam. Seperti hutan, tumbuhan ataupun hewan. Intinya, ecotourism adalah bentuk dari pariwisata yang berbasis alam. Kedua, ecotourism menekankan pada konsep belajar, bahwa itu adalah hasil interaksi antara “Ecotourists dengan lingkungan alam.” Ketiga, konsep berkesinambungan yang harus dimiliki. Ini berangkat dari pendapat kedua yang menyatakan adanya rasa mengerti dan dan penghargaan pada alam yang berakibat pada munculnya keinginan untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur dari sebuah obyek atupun atraksi tidak hilang begitu saja.
Selama tiga kriteria dasar ini terpenuhi, ada yang berpendapat bahwa itu adalah ecotourism, meskipun tingkat pelayanan dan jumlah orang yang terlibat di dalamnya tergolong mass tourism. Karena tadi disebutkan bahwa ecotourism biasanya diikuti oleh hanya sedikit orang dengan tujuan ke sebuah tempat tertentu dengan tidak terlalu mengharapkan pelayanan dengan standar tinggi seperti perlakuan yang diberikan pada wisatawan pada umumnya. Ini dimungkinkan karena mereka yang mengikuti dan terlibat dalam ecotourism akan merasa lebih senang jika dapat terjun dan menangani secara langsung obyek atau atraksi yang mereka kunjungi dengan harapan untuk dapat berperan serta dalam pelestariannya.

Perubahan paradigma dari Mass Tourism menjadi Sustainable Tourism

Advocacy platform. beranggapan bahwa semakin banyak pariwisata maka semakin baik. Sebuah argumen yang berpendapat bahwa volume pengunjung yang lebih besar akan menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi dalam aliran (seperti, misalnya, melalui entri dan pengguna biaya lainnya) yang dapat digunakan untuk lebih efektif mengelola obyek tersebut.

Sebaliknya, pada dekade 1970-an cautionary platform melihat pariwisata sebagai sesuatu yang dapat mengurangi kelestarian lingkungan, ekonomi, sosial budaya dan integritas tujuan.
Akhirnya muncul adaptancy platform. Pariwisata yang tadinya dalam skala besar, dikontrol secara eksternal, dengan tingkat kebocoran yang tinggi, dan terkonsentrasi dalam tingkat kepadatan yang tinggi, seharusnya menjadi skala kecil, dikontrol secara lokal, kondusif untuk pembentukan hubungan dengan sektor lain ekonomi lokal, dan kepadatan yang rendah dalam lingkungan lokal.

Ecotourism muncul dalam konteks ini sebagai bentuk wisata alternatif yang menempatkan penekanan pada alam. Bentuk pariwisata yang ramah lingkungan, dalam volume kecil yang diharapkan dapat meminimalisir kerusakan, dengan visi jangka panjang yang dapat menjaga keberlanjutannya. Dalam pariwisata berkelanjutan peranan masyarakat lokal merupakan bagian penting yang tidak bisa dipisahkan. Agar pariwisata itu bisa berkelanjutan, maka dalam pengembangannya pariwisata harus dapat memberikan keuntungan baik secara materi maupun non-materi baik langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat lokal sebagai pendukung maupun pemilik wilayah tersebut.

Dalam sekala kecil dimana jumlah wisatawan tidak begitu banyak, kegiatan ekowisata bisa menjadi kegiatan wisata yang memang dapat memberikan keuntungan ekonomi meskipun tidak begitu besar bagi masyarakat lokal disamping tetap bisa menjaga kelestarian lingkungan alam. Namun kembali lagi jika masyarakat lokal mulai lebih mengejar keuntungan ekonomi, tanpa adanya kontrol yang lebih kuat kegiatan ekowisata ini bisa jadi kegiatan yang memberikan dampak negatif yang sama buruknya dengan kegiatan wisata masal dan bahkan bisa menjadi lebih buruk. Ecotourism telah menjadi salah satu sektor yang paling berkembang dengan cepat, sekitar 10-15% setiap tahunnya. Jika kemudian ekowisata menarik banyak minat wisatawan dan kemudian berkembang menjadi bagian dari wisata masal, pengembangan ekowisata harus disertai dengan konrtol yang lebih kuat agar kegiatanya tidak merusak kelestarian lingkungan alam. Walau tidak dapat dipungkiri juga bahwa keuntungan yang diperoleh dari kegiatan wisata massal ini juga dapat digunakan untuk menjaga keberlangsungan pelestarian alam.

Banyak proyek ecotourism yang tidak memenuhi standar. Meskipun garis-garis panduannya telah dilaksanakan, komunitas lokal masih harus menghadapi dampak-dampak negatifnya. Berikut adalah dampak negatif ecotourism yang harus diperhatikan agar kita mendapat gambaran bahwa semua hal yang tidak mendapat kontrol secara proporsional akan berakibat negatif meskipun itu secara teoritis terdengar sangat manis.

1. Akibat-akibat langsung pada lingkungan hidup.
Walaupun para ecotourist mengklaim bahwa mereka sangat peduli pada lingkungan, jarang diantara mereka yang menyadari konsekuansi ekologi, dan bagaimana kegiatan yang mereka lakukan berpengaruh secara fisik pada lingkungan. Misalnya aktivitas mengamati kehidupan liar, hal itu dapat menakuti hewan-hewan, merusak sarang mereka, dan membuat mereka takut akan kehadiran manusia. Wisatawan yang berpetualang ke tengah hutan dan berusaha membuat rute alternatif dapat mengakibatkan kerusakan tumbuhan dan erosi.

2. Environmental hazards
Selain industrialisasi atau urbanisasi, ecotourism juga berakibat buruk pada lingkungan hidup. Salah satunya adalah perambahan wilayah yang belum terjamah. Invasi ini termasuk pembukaan lahan hutan, pengrusakan kehidupan ekologi, polusi, banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang melintasi hutan dengan alasan mencari spesies baru, merusak jalan dan rerumputan, dan berakibat serius pada spesies tanaman dan hewan. Dan beberapa kalangan yang ingin meningkatkan keuntungan dengan meningkatkan jumlah turis. Dan semakin banyak turis yang masuk, maka semakin tinggi juga tekanan pada lingkungan hidup. Banyak obyek ecotourism yang dikelola oleh investor asing. Keuntungannya lebih banyak masuk ke kantong mereka, bukannya ditanamkan kembali ke dalam ekonomi lokal atau digunakan untuk pelestarian lingkungan hidup.

3. Dispalecment of people
Banyak investor yang tidak melibatkan masyarakat lokal dengan alasan kurangnya kompetensi, sehingga mereka cenderung mendatangkan pekerja dari luar yang lebih berpendidikan. Sehingga tidak ada manfaat secara ekonomi bagi masayarakat lokal, bahkan banyak kebijakan yang diterapkan tanpa melibatkan komunikasi dan persetujuan masyarakat lokal. Dan ketika kebijakan itu terbukti salah, penduduk lokal yang disalahkan dan menanggung akibatnya.

4. Threats to indigenous cultures
Dengan alasan membangun kawasan konservasi, banyak penduduk yang harus kehilangan tanah dan tempat tinggalnya, bahkan tanpa kompensasi yang layak dari pemerintah. Dipaksa pindah ke tempat dengan kondisi tanah yang tidak sebaik dan sesubur sebalumnya, suku-suku pedalaman dijadikan obyek tontonan, diamati terus menerus dan dianggap sebagai bagian dari atraksi kehidupan liar.

5. Mismanagement
Kurangnya komitmen pemerintah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup
Penyerahan pengelolaanS itus ecotourism pada perusahaan swasta oleh pemerintah untuk mempermudah kinerja mereka sekaligus mendapat profit. Ini banyak terbukti gagal karena hanya sedikit perusahaan swasta yang benar-benar memiliki komitmen kuat dalam pelestarian lingkungan. Kebanyakan dari mereka hanya berusaha mendapat keuntungan sebesar-besarnya dengan mengikuti segala keinginan turis, tanpa mempedulikan kerusakan yang terjadi pada lingkungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar